Malam masih sangat panjang, dinginnya angin darat menggigit masuk sampai ke tulang kedua remaja kota yang sedang berjalan lambat di tepian jalan. Marcell dan Rohim. Suara dengung sirene polisi terdengar mendekat, diikuti mobil sedan polisi yang bergerak sangat cepat. Hampir seratus kilometer per jam kira-kira, melaju menembus malam. Kedua remaja itu hanya berhenti sebentar untuk menatap terangnya lampu biru di atap mobil, kemudian kembali berjalan santai.
“Lo ga lapor polisi cell?”
“Ga, emang kenapa?”
“Lha, pesawat lo kecelakaan, lo selamat dan ga lapor bisa dikira teroris lo bro”
“Ga ah, nama gw juga ga ada di daftar penumpang pesawat”
Rohim sedikit kaget, “Lo naik pesawat ga pake tiket? Lo kata kereta? Bisa beli di atas!”
“Menurutlo gw jauh-jauh ke Jogja buat ngapain Him? Gw ke Jogja ga cuma buat nyicipin Oseng-Oseng Mercon sama Kopi Joss doang bro”
“Trus?”
“Nyari sarung tangan”
“Sarung tangan yang kaya kita punya maksudnya?”
“Ya iya lah, kalo sarung tangan biasa ngapain gw jauh-jauh ke Jogja, sampe tiga minggu di sana, di Tanah Abang juga banyak, bisa pesen!”
Halte Busway yang menjadi tujuan mereka berdua sudah terlihat. Seperti biasa, setiap akhir pekan pasti halte tersebut penuh. Ancol dan Dufan masih menjadi wisata kota yang menarik bagi warga Ibu Kota khususnya di hari libur.
“Ah, iya.. Bubaran Dufan ni ya? Pantesan penuh banget ni halte” keluh Marcell.
“Bentar Cell, emang sarung tangan apa yang lo dapet dari Jogja?”
“Entar napa, rame orang!”
“Maksud gw, kekuatannya apaan?”
“Menghilang!”
“…”
Rohim kaget, dan sekarang tak hanya sedikit.
“Eh, lo bayarin Busway ya Him?”
-bersambung-
Marcell tersentak kaget, gelagapan menanggapi seorang wanita cantik berperawakan semampai yang membangunkannya dari tidur. Seketika ia tersadar masih berada di dalam pesawat yang membawanya mengudara. Marcell sudah terbangun, walau orientasinya sedikit terganggu akibat tekanan udara berbeda yang timbul karena tingginya pesawat mengudara. Tapi mengapa sang pramugari masih tetap menatapnya dengan bibir yang terus bergerak-gerak layaknya membaca mantera? Marcell kembali tersontak, dengan terburu-buru dilepasnya earphone dari telinga. Sayup terdengar alunan lagu Selalu Mengalah dari kedua speaker earphone.
Siapa yang tidak kenal Gayus Tambunan? Manusia yang selama proses tahanan masih bisa bebas keluyuran ke antero jagat raya. Makhluk yang tiba-tiba kaya karena perusahaan pengemplang pajak minta tolong bantuannya. Masih teringat dalam otak ketika surat-surat kabar memasang gambar rumah Gayus beberapa tahun lalu, sebelum dia bermanufer (a.k.a. Korupsi) dan juga gambar rumahnya yang baru di Kelapa Gading yang merupakan kawasan elite di ibu kota seharga ratusan milyar rupiah. Pasportnya pun sangat mahal, disinyalir berharga 900 juta rupiah, dan konon hanya dipakai beberapa kali.
