[Fiksi] Tangan-Tangan Malaikat (2)

Malam masih sangat panjang, dinginnya angin darat menggigit masuk sampai ke tulang kedua remaja kota yang sedang berjalan lambat di tepian jalan. Marcell dan Rohim. Suara dengung sirene polisi terdengar mendekat, diikuti mobil sedan polisi yang bergerak sangat cepat. Hampir seratus kilometer per jam kira-kira, melaju menembus malam. Kedua remaja itu hanya berhenti sebentar untuk menatap terangnya lampu biru di atap mobil, kemudian kembali berjalan santai.

“Lo ga lapor polisi cell?”
“Ga, emang kenapa?”
“Lha, pesawat lo kecelakaan, lo selamat dan ga lapor bisa dikira teroris lo bro”
“Ga ah, nama gw juga ga ada di daftar penumpang pesawat”

Rohim sedikit kaget, “Lo naik pesawat ga pake tiket? Lo kata kereta? Bisa beli di atas!”

“Menurutlo gw jauh-jauh ke Jogja buat ngapain Him? Gw ke Jogja ga cuma buat nyicipin Oseng-Oseng Mercon sama Kopi Joss doang bro”
“Trus?”
“Nyari sarung tangan”
“Sarung tangan yang kaya kita punya maksudnya?”
“Ya iya lah, kalo sarung tangan biasa ngapain gw jauh-jauh ke Jogja, sampe tiga minggu di sana, di Tanah Abang juga banyak, bisa pesen!”

Halte Busway yang menjadi tujuan mereka berdua sudah terlihat. Seperti biasa, setiap akhir pekan pasti halte tersebut penuh. Ancol dan Dufan masih menjadi wisata kota yang menarik bagi warga Ibu Kota khususnya di hari libur.

“Ah, iya.. Bubaran Dufan ni ya? Pantesan penuh banget ni halte” keluh Marcell.
“Bentar Cell, emang sarung tangan apa yang lo dapet dari Jogja?”
“Entar napa, rame orang!”
“Maksud gw, kekuatannya apaan?”
“Menghilang!”
“…”

Rohim kaget, dan sekarang tak hanya sedikit.

“Eh, lo bayarin Busway ya Him?”

-bersambung-

Dipublikasi di Novel | Tag , | 2 Komentar

[Fiksi] Tangan Tangan Malaikat (1)

BERTAHAN

Rohim belum membuka mata ketika tangan kasarnya meraba-raba kasur tempat ia terbaring. Mencoba menemukan sumber suara lagu “You Know Me So Well” yang keluar dari telepon genggamnya. Jam meja digital di samping tempat tidurnya bertuliskan angka 10:17p, masih cukup sore sebenarnya bagi Rohim untuk sudah tertidur. Diterangi cahaya bulan penuh yang masuk dari kaca jendela ruang berukuran 3×4 meter terlihat sangat sempit karena dipenuhi berbagai macam barang. Akhirnya Rohim menyerah, dengan terpaksa ia harus membuka mata karena tak juga berhasil menemukan Blackberry kepunyaannya.

“Him! Kacrut! Di mana Lo?!” Suara keras setengah berteriak langsung keluar segera setelah Rohim menekan tombol hijau.

“Di kos, Lo di mana? Eh.. Ini siapa?” Balas Rohim setengah bergumam, sepertinya malas ia menanggapi telepon ini.

“Gembel! Marcell! Lo ke sini Him! Jemput Gua! Ni lagi di wartel, daerah Ancol. Cuma Elo yang Gua apal nomor teleponnya. Gua tunggu di pintu masuk Marina. Hape Gua rusak, sama bawain baju ganti yak! Buruan!” Balas Marcell lagi. Setelah Rohim menyanggupi untuk segera menjemput terlihat agak sedikit kelegaan dari wajah Marcell.

Walau pakaian basah Macell sudah agak mengering di beberapa bagian, namun tetap hawa dingin menggigit membuat tubuh Marcell menggigil. Marcell berjalan meninggalkan wartel setelah membayar beberapa ribu rupiah menuju pintu gerbang Marina Ancol yang letaknya tak seberapa jauh dari situ. Dengan langkah gontai Ia rogoh kembali kantong belakang celananya, diambilnya sepasang sarung tangan kulit berwarna coklat. Sekilas hanya berupa sarung tangan biasa, hanya bordiran bertuliskan “regen” dengan huruf sambung berwarna hitam pada pergelangan tangan yang menandakan sarung tangan ini berbeda. Betapa sarung tangannya sudah sangat sering membantunya, bahkan untuk kali ini menyelamatkannya dari maut.

Tenggelam dalam lamunannya, Marcell tak menyadari bahwa Rohim sudah menunggunya di depan pintu masuk Marina Ancol.

“Woi! Cumi! Ngelamun aja Lo. Nih baju Lo! Ganti dulu gih! Bau comberan Lo!” Ujar Rohim agak sedikit keras, sambil melemparkan tas ransel berisi pakaian yang dijanjikannya.

“Anjrit! Cepet amat, naek apaan Lo?” Tanya Marcell keheranan.

Menjawab pertanyaan Marcell, Rohim hanya menunjukkan sarung tangan kepunyaannya. Sarung tangan berwarna hijau yang biasa dipakai para pembalap sepeda. Samar terlihat bordiran hitam, juga di pergelangan tangannya bertuliskan “haste.”

“Mana sepeda Lo?” Tanya Marcell lagi.

“Gua lari coy. Sepedanya Gua kunci, nah kuncinya di kamar. Gua cari-cariin kagak ketemu. Lha Lo bilang buruan, ya Gua buru-buru.” Jawab Rohim menimpali.

“Terus, kita balik bagaimana? Lo mau gendong Gua?”

“O iya..”

“Ye.. Gembel!”

–bersambung–

Posted with WordPress for BlackBerry.

Dipublikasi di Blog | Tag , | Meninggalkan komentar

[Fiksi] Tangan Tangan Malaikat (Prolog)

Marcell tersentak kaget, gelagapan menanggapi seorang wanita cantik berperawakan semampai yang membangunkannya dari tidur. Seketika ia tersadar masih berada di dalam pesawat yang membawanya mengudara. Marcell sudah terbangun, walau orientasinya sedikit terganggu akibat tekanan udara berbeda yang timbul karena tingginya pesawat mengudara. Tapi mengapa sang pramugari masih tetap menatapnya dengan bibir yang terus bergerak-gerak layaknya membaca mantera? Marcell kembali tersontak, dengan terburu-buru dilepasnya earphone dari telinga. Sayup terdengar alunan lagu Selalu Mengalah dari kedua speaker earphone.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Blog | Tag , | 1 Komentar

Analogi Kehidupan dan Labirin

Menjalani kehidupan ibarat masuk ke dalam labirin penuh lorong berliku dan persimpangan. Di tiap persimpangan yang ada kita dipaksa untuk memilih jalan yang hendak kita tempuh. Demikian pula hidup, setiap saat kita dihadapkan kepada pilihan yang tentu saja masing-masing pilihan memiliki risiko yang berbeda-beda.

Kita tak pernah tahu, apakah jalan yang kita pilih merupakan jalan yang benar yang mengantar kita ke tujuan kita ataukah jalan yang salah yang justru menyesatkan kita. Diuntungkan bahwa kita tidak hidup sendiri. Manusia sebagai makhluk sosial yang pastinya bersosialisasi dengan manusia lainnya bisa saling bertukar pengalaman. Yang diibaratkan dapat saling berbagi informasi perihal jalan yang benar di dalam labirin tersebut.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Blog | Tag , | 2 Komentar

Putusan Gayus di PN Jakarta Selatan

Siapa yang tidak kenal Gayus Tambunan? Manusia yang selama proses tahanan masih bisa bebas keluyuran ke antero jagat raya. Makhluk yang tiba-tiba kaya karena perusahaan pengemplang pajak minta tolong bantuannya. Masih teringat dalam otak ketika surat-surat kabar memasang gambar rumah Gayus beberapa tahun lalu, sebelum dia bermanufer (a.k.a. Korupsi) dan juga gambar rumahnya yang baru di Kelapa Gading yang merupakan kawasan elite di ibu kota seharga ratusan milyar rupiah. Pasportnya pun sangat mahal, disinyalir berharga 900 juta rupiah, dan konon hanya dipakai beberapa kali.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Blog | Tag , , | Meninggalkan komentar