Analogi Kehidupan dan Labirin

Menjalani kehidupan ibarat masuk ke dalam labirin penuh lorong berliku dan persimpangan. Di tiap persimpangan yang ada kita dipaksa untuk memilih jalan yang hendak kita tempuh. Demikian pula hidup, setiap saat kita dihadapkan kepada pilihan yang tentu saja masing-masing pilihan memiliki risiko yang berbeda-beda.

Kita tak pernah tahu, apakah jalan yang kita pilih merupakan jalan yang benar yang mengantar kita ke tujuan kita ataukah jalan yang salah yang justru menyesatkan kita. Diuntungkan bahwa kita tidak hidup sendiri. Manusia sebagai makhluk sosial yang pastinya bersosialisasi dengan manusia lainnya bisa saling bertukar pengalaman. Yang diibaratkan dapat saling berbagi informasi perihal jalan yang benar di dalam labirin tersebut.

Tapi tak ada seorangpun yang tahu, ujung labirin tersebut. Apa isinya, bagaimana bentuknya, apakah sesuai dengan angan-angan kita, tak ada yang tahu. Yang sudah menemui ujung labirin tersebut, tentu saja sudah keluar dari labirin itu. Bebas. Bagi kita yang masih berada di labirin, jika ternyata ujung labirin nanti tidak seperti apa yang kita impi-impikan, kecewakah kita? Menyesalkah? Jika jawabannya adalah iya, berarti Anda dalam menjalani kehidupan masih berorientasi terhadap hasil, bukan proses.

Bagaimana dengan manusia yang menjalankan kehidupan dengan berorientasi kepada proses? Tak ada kata menyesal dari dirinya, tak ada kata pamrih dari setiap kebaikan yang dia berikan. Tak ada kata kegagalan, tak ada kata kecewa. Sebab dirinya tahu, bahwa setia pilihan jalan di persimpangan memiliki risikonya masing-masing. Dan setiap jalan yang ditempuh adalah berbeda, setidaknya waktu, karena waktu terus berjalan. Dan dari tiap perbedaan dia telah mendapatkan sesuatu yang baru, pembelajaran bagi kehidupannya.

Dalam labirin, manusia ini diibaratkan menikmati setiap langkah yang dibuatnya. Ketika sampai pada ujungnya, ternyata labirin itu hanya berupa tembok keras tinggi dan tebal, mungkin ia hanya akan berkata “yak! Sudah sampai..” Tak ada kekecewaan, karena di tiap langkah yang ia buat sudah ia dapatkankan kenikmatan hidupnya. Sudah saatnya ia berhenti, dan beristirahat. Bagaimana dengan kebaikan tanpa pamrih yang selama hidup ia lakukan? Kita semua tahu, Tuhan tidak tidur.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Blog dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Analogi Kehidupan dan Labirin

  1. wawan berkata:

    “Kita tak pernah tahu, apakah jalan yang kita pilih merupakan jalan yang benar yang mengantar kita ke tujuan kita ataukah jalan yang salah yang justru menyesatkan kita. ”

    mari dinikmati.. =)

  2. budiastawa berkata:

    Ya, mas. Hidup adalah pilihan dan memilih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s