[Fiksi] Tangan Tangan Malaikat (Prolog)

Marcell tersentak kaget, gelagapan menanggapi seorang wanita cantik berperawakan semampai yang membangunkannya dari tidur. Seketika ia tersadar masih berada di dalam pesawat yang membawanya mengudara. Marcell sudah terbangun, walau orientasinya sedikit terganggu akibat tekanan udara berbeda yang timbul karena tingginya pesawat mengudara. Tapi mengapa sang pramugari masih tetap menatapnya dengan bibir yang terus bergerak-gerak layaknya membaca mantera? Marcell kembali tersontak, dengan terburu-buru dilepasnya earphone dari telinga. Sayup terdengar alunan lagu Selalu Mengalah dari kedua speaker earphone.

“Maaf, tolong dimatikan perangkat audionya! Kita mau mendarat” ucap si wanita dengan nada sangat sopan. Sepertinya perusahaan maskapai penerbangan cukup baik dalam menyeleksi karyawan yang masuk. Walau tidak semua pramugari di pesawat itu cantik, tapi menarik sepertinya menjadi syarat dasar utama dalam perekrutan pegawai. Ditambah balutan pakaian yang dikenakan, walau panjang sampai menutup mata kaki, namun belahan rok para wanita pelayan dalam pesawat itu pun juga “panjang.” Mungkin untuk kelincahan para awak pesawat apabila terjadi hal yang sebenarnya tidak diinginkan.

Marcell dapat mendengar dengan jelas, dengan segera pula ia matikan iPod miliknya dan langsung menegakkan sandaran kursi seperti yang biasa diperintahkan kepala crew apabila pesawat akan mendarat. Sang pramugari sudah menghilang dari hadapannya, kembali ke tempat duduknya di bagian ekor pesawat.

Tak lama setelah itu lampu kabin pesawat meredup, dari jendela makin jelas terlihat lampu-lampu gedung pesisir kota jakarta dan juga beberapa lampu perahu nelayan yang menghiasi teluk Jakarta di malam hari. Sudah semakin rendah pesawat akan mendarat, perubahan tekanan mengakibatkan rasa tidak enak di telinga. Seorang ibu-ibu berkerudung yang duduk di sebelah Marcell malah menutup dengan jari kedua telinganya, entah adakah perbedaan signifikan dari yang dilakukannya. Tapi Marcell tak peduli, ujian akhir semesternya dari pagi sudah menguras tenaganya, bahkan tenaga untuk memperhatikan sekitarnya.

Hanya tinggal beberapa puluh sentimeter lagi pesawat akan menginjakkan ke bumi tiba-tiba sang burung besi menambah kecepatannya. Dapat dirasakan oleh Marcell pesawat kembali mengudara, menjauh dari lintasan bandara.

Bingung bercampur dengan sedikit panik, para penumpang hanya bisa memandang ke luar dari balik jendela. Melihat pesawat kembali menjauhi bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Beberapa hanya bisa berdoa, seseorang membuka sabuk pengaman dan mendekati seorang pramugari.

“Tenang pak, tolong kembali ke tempat duduk, dan kenakan lagi sabuk pengaman anda. Informasi akan segera diketahui pak lewat Kapten Pesawat,” pramugari mencoba menenangkan para penumpang.

Marcell pun sedikit tidak tenang, gelisah ditambah keinginannya untuk ke kamar mandi yang sejak tadi ia tahan. Segera setelah penumpang yang tadi berdiri kembali memasang sabuk pengaman, ganti Marcell yang beranjak dari tempat duduknya.

“Mas, tolong kembali ke tempat duduknya lagi!” pinta sang pramugari.

Marcell tak peduli, dengan segera ia menyusuri lorong kabin menuju kamar kecil pesawat. Pramugari yang awalnya berniat untuk mencegah langsung kembali ke tempat duduknya.

Tak lama setelah Marcell mengunci pintu kamar mandi, terdengar suara radio. Kapten Pesawat yang berbicara dari dalam kokpit.

“Selamat malam para penumpang, di sini Kapten pesawat yang berbicara. Mohon maaf karena kondisi yang sangat kurang nyaman ini. Tapi sudah menjadi kewajiban saya sebagai Kapten untuk memberitahukan kondisi yang sebenarnya di dalam pesawat. Setelah saya memberitahukan kondisi yang sebenarnya kami mohon para penumpang tetap tenang, karena kami sudah memiliki standar prosedur yang harus dilakukan untuk keselamatan para penumpang.”

“Secara mengejutkan kami mendapat informasi dari ATC Bandara Soekarno Hatta bahwa..”

“…bahwa roda depan pesawat telah hilang!!”

–bersambung–

Posted with WordPress for BlackBerry.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Blog dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke [Fiksi] Tangan Tangan Malaikat (Prolog)

  1. Latree berkata:

    ha.
    *nunggu lanjutan*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s