[Fiksi] Tangan Tangan Malaikat (1)

BERTAHAN

Rohim belum membuka mata ketika tangan kasarnya meraba-raba kasur tempat ia terbaring. Mencoba menemukan sumber suara lagu “You Know Me So Well” yang keluar dari telepon genggamnya. Jam meja digital di samping tempat tidurnya bertuliskan angka 10:17p, masih cukup sore sebenarnya bagi Rohim untuk sudah tertidur. Diterangi cahaya bulan penuh yang masuk dari kaca jendela ruang berukuran 3×4 meter terlihat sangat sempit karena dipenuhi berbagai macam barang. Akhirnya Rohim menyerah, dengan terpaksa ia harus membuka mata karena tak juga berhasil menemukan Blackberry kepunyaannya.

“Him! Kacrut! Di mana Lo?!” Suara keras setengah berteriak langsung keluar segera setelah Rohim menekan tombol hijau.

“Di kos, Lo di mana? Eh.. Ini siapa?” Balas Rohim setengah bergumam, sepertinya malas ia menanggapi telepon ini.

“Gembel! Marcell! Lo ke sini Him! Jemput Gua! Ni lagi di wartel, daerah Ancol. Cuma Elo yang Gua apal nomor teleponnya. Gua tunggu di pintu masuk Marina. Hape Gua rusak, sama bawain baju ganti yak! Buruan!” Balas Marcell lagi. Setelah Rohim menyanggupi untuk segera menjemput terlihat agak sedikit kelegaan dari wajah Marcell.

Walau pakaian basah Macell sudah agak mengering di beberapa bagian, namun tetap hawa dingin menggigit membuat tubuh Marcell menggigil. Marcell berjalan meninggalkan wartel setelah membayar beberapa ribu rupiah menuju pintu gerbang Marina Ancol yang letaknya tak seberapa jauh dari situ. Dengan langkah gontai Ia rogoh kembali kantong belakang celananya, diambilnya sepasang sarung tangan kulit berwarna coklat. Sekilas hanya berupa sarung tangan biasa, hanya bordiran bertuliskan “regen” dengan huruf sambung berwarna hitam pada pergelangan tangan yang menandakan sarung tangan ini berbeda. Betapa sarung tangannya sudah sangat sering membantunya, bahkan untuk kali ini menyelamatkannya dari maut.

Tenggelam dalam lamunannya, Marcell tak menyadari bahwa Rohim sudah menunggunya di depan pintu masuk Marina Ancol.

“Woi! Cumi! Ngelamun aja Lo. Nih baju Lo! Ganti dulu gih! Bau comberan Lo!” Ujar Rohim agak sedikit keras, sambil melemparkan tas ransel berisi pakaian yang dijanjikannya.

“Anjrit! Cepet amat, naek apaan Lo?” Tanya Marcell keheranan.

Menjawab pertanyaan Marcell, Rohim hanya menunjukkan sarung tangan kepunyaannya. Sarung tangan berwarna hijau yang biasa dipakai para pembalap sepeda. Samar terlihat bordiran hitam, juga di pergelangan tangannya bertuliskan “haste.”

“Mana sepeda Lo?” Tanya Marcell lagi.

“Gua lari coy. Sepedanya Gua kunci, nah kuncinya di kamar. Gua cari-cariin kagak ketemu. Lha Lo bilang buruan, ya Gua buru-buru.” Jawab Rohim menimpali.

“Terus, kita balik bagaimana? Lo mau gendong Gua?”

“O iya..”

“Ye.. Gembel!”

–bersambung–

Posted with WordPress for BlackBerry.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Blog dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s